Monday, September 9, 2013

WANITA 52 tahun itu asyik menanam biji anggrek. Dengan sangat hari-hati, bahkan menjaga napas dan pembicaraan. Yusnita, Doktor fisiologi tanaman dosen Unila itu tidak sedang bercocok tanam biasa.

Bibit Anggrek Baru Yusnita

WANITA 52 tahun itu asyik menanam biji anggrek. Dengan sangat hari-hati, bahkan menjaga napas dan pembicaraan. Yusnita, Doktor fisiologi tanaman dosen Unila itu tidak sedang bercocok tanam biasa.

PEKERJAAN jalan yang tak kunjung selesai, asap kendaraan bermotor, asap rokok, dan asap pabrik bercampur dalam butiran debu. Jangan abaikan debu-debu yang beterbangan di udara karena bisa memicu gangguan paru yang serius.

Gangguan Paru Paru akibat Debu

PEKERJAAN jalan yang tak kunjung selesai, asap kendaraan bermotor, asap rokok, dan asap pabrik bercampur dalam butiran debu. Jangan abaikan debu-debu yang beterbangan di udara karena bisa memicu gangguan paru yang serius.

Friday, August 9, 2013

PENGOLAHAN singkong menjadi tepung tapioka menghasilkan limbah cair yang cukup banyak. Jika tidak dikelola dengan baik, tentu saja akan mendapat protes dari tetangga dan masyarakat sekitar.
Yups, limbah singkong ini menghasilkan bau yang sangat asam, dan gas metana yang dihasilkan limbah cair ini memiliki efek rumah kaca. Namun, di tangan Udin Hasanudin, limbah ini diubah menjadi sumber energi. Semua berawal dari konsep zero waste (nol limbal) pada agroindustri.
 
Dosen Jurusan Teknologi Hasil Pertanian Universitas Lampung ini mengatakan pengolahan tepung tapioka dengan bahan baku singkong menghasilkan limbah dengan senyawa kimia berupa gas metana. Gas inilah yang akrab disebut gas rumah kaca yang memiliki dampak pemanasan global.
Untuk itu, Udin menawarkan konsep zero waste pada pengolahan tapioka ini. Dia mengawali penelitiannya di sebuah industri rumah tangga di Kabupaten Pesawaran. 
 
Udin menjelaskan industri ini belum memiliki pengelolaan limbah yang memadai. Limbah cair yang dihasilkan hanya ditampung di kolam kecil dan dialirkan ke sungai. Ini tentu saja mencemari sungai dan tanah yang ada di sekitar pabrik. 
 
 
Untuk itu, Udin membuat alat mirip terpal raksasa di atas kolam limbah yang berfungsi menampung uap yang dihasilkan limbah cair. Terpal tersebut berupa penutup tanah reactor anaerobic agar terjadi proses kimia tanpa oksigen. Alat yang disebut juga cover in the groun anaerobic reactor ini memiliki kapasitas 2.700 meter kubik. Proses anarob pada limbah cair singkong ini nantinya akan menghasilkan gas metana yang dialirkan lewat pipa menuju tempat pengumpulan gas.
 
Gas inilah yang bisa dimanfaatkan sebagai sumber energi untuk memasak. Sementara sisa limbah aman ditaburkan ke lahan. Sisa limbah tersebut masih mengandung unsur hara nitrogen dan fosfor yang cukup tinggi untuk memperbaiki kualitas tanah. 
 
"Jadi tidak ada limbah singkong yang terbuang sia-sia," ujar Kepala Laboratorium Pengelolaan Limbah Agroindustri yang meneliti sejak 2005 lalu. 
 
Pengolahan limbah ini tidak hanya menyulap limbah menjadi ramah lingkungan, tapi juga memberi nilai tambah pada limbah tersebut. Limbah bisa menjadi sumber energi dan pupuk organik. Dia mengharapkan penerapan zero waste ini dilakukan oleh semua agroindustri, baik yang berskala kecil maupun yang besar.


Menyulap Limbah Singkong Menjadi Energi

PENGOLAHAN singkong menjadi tepung tapioka menghasilkan limbah cair yang cukup banyak. Jika tidak dikelola dengan baik, tentu saja akan mendapat protes dari tetangga dan masyarakat sekitar.
Yups, limbah singkong ini menghasilkan bau yang sangat asam, dan gas metana yang dihasilkan limbah cair ini memiliki efek rumah kaca. Namun, di tangan Udin Hasanudin, limbah ini diubah menjadi sumber energi. Semua berawal dari konsep zero waste (nol limbal) pada agroindustri.
 
Dosen Jurusan Teknologi Hasil Pertanian Universitas Lampung ini mengatakan pengolahan tepung tapioka dengan bahan baku singkong menghasilkan limbah dengan senyawa kimia berupa gas metana. Gas inilah yang akrab disebut gas rumah kaca yang memiliki dampak pemanasan global.
Untuk itu, Udin menawarkan konsep zero waste pada pengolahan tapioka ini. Dia mengawali penelitiannya di sebuah industri rumah tangga di Kabupaten Pesawaran. 
 
Udin menjelaskan industri ini belum memiliki pengelolaan limbah yang memadai. Limbah cair yang dihasilkan hanya ditampung di kolam kecil dan dialirkan ke sungai. Ini tentu saja mencemari sungai dan tanah yang ada di sekitar pabrik. 
 
 
Untuk itu, Udin membuat alat mirip terpal raksasa di atas kolam limbah yang berfungsi menampung uap yang dihasilkan limbah cair. Terpal tersebut berupa penutup tanah reactor anaerobic agar terjadi proses kimia tanpa oksigen. Alat yang disebut juga cover in the groun anaerobic reactor ini memiliki kapasitas 2.700 meter kubik. Proses anarob pada limbah cair singkong ini nantinya akan menghasilkan gas metana yang dialirkan lewat pipa menuju tempat pengumpulan gas.
 
Gas inilah yang bisa dimanfaatkan sebagai sumber energi untuk memasak. Sementara sisa limbah aman ditaburkan ke lahan. Sisa limbah tersebut masih mengandung unsur hara nitrogen dan fosfor yang cukup tinggi untuk memperbaiki kualitas tanah. 
 
"Jadi tidak ada limbah singkong yang terbuang sia-sia," ujar Kepala Laboratorium Pengelolaan Limbah Agroindustri yang meneliti sejak 2005 lalu. 
 
Pengolahan limbah ini tidak hanya menyulap limbah menjadi ramah lingkungan, tapi juga memberi nilai tambah pada limbah tersebut. Limbah bisa menjadi sumber energi dan pupuk organik. Dia mengharapkan penerapan zero waste ini dilakukan oleh semua agroindustri, baik yang berskala kecil maupun yang besar.


Wednesday, August 7, 2013

LELAKI tua itu berjalan meringkuk, tangannya yang kurus mengambil sebungkus nasi pada Ramadan ini ada tambahan satu kotak berisi takjil yang diberikan seorang pemuda.
Sepertinya dia sudah terbiasa dengan pemberian ini sehingga tidak perlu lagi berbasa-basi, cukup menyunggingkan senyum kecil di bibirnya yang kering dan hitam. 
 
Lelaki berbaju lusuh itu memilih pojok Bundaran Gajah Bandar Lampung untuk menikmati pemberian itu. Pelepas lapar hari ini.
 
Tidak banyak orang yang peduli dengan kondisi tunawisma seperti bapak tua itu. Hanya terlihat belasan pemuda dan pemudi yang sibuk membagikan kotak dan bungkusan nasi. Beberapa pengendara sepeda motor yang melewati perempatan Bundaran Gajah menjelang magrib juga mendapat bagian agar bisa berbuka di jalan. 
 
Tidak ada yang sia-sia, sebungkus nasi untuk tunawisma adalah berkah. Itulah kegiatan rutin yang dilakukan Komunitas Berbagi Nasi Lampung. Komunitas ini dibentuk dari Twitter @berbaginasiLPG pada 12 Februari lalu, kini mereka sudah tersebar hampir di seluruh wilayah di Lampung.
"Di Lampung ini masih banyak tunawisma yang tidur di emperan toko, badan jalan, dan mereka tak memiliki banyak uang untuk makan," ujar Dhia Fadhilah Fatin, inisiator Komunitas Berbagi Nasi Lampung. Kini relawan komunitas ini mencapai 20 orang yang terdiri dari mahasiswa, pengusaha, dan umum. 
 
Dhia bersyukur kini sudah banyak donatur yang membantu kegiatan mereka. Jika donatur memberikan nasi, mereka yang membagikan kepada para tunawisma. Namun, jika donatur memberikan uang, mereka terlebih dahulu membeli berbungkus-bungkus nasi untuk kemudian dibagikan. 
 
Berbagi nasi ini rutin mereka lakukan setiap Jumat malam. Khusus Ramadan, mereka mulai membagikan nasi pada sore hari menjelang buka puasa.
 
Target utama komunitas ini adalah tunawisma yang berada di jalanan, pengamen dan para pemulung. Selain itu, mereka juga membagikan nasi untuk satpam dan tukang becak. Aksi Dhia dan teman-temannya dimulai dari pukul 21.00 hingga habis nasi yang dibagikannya. Ada 70?200 bungkus untuk setiap aksinya pada Jumat malam.
 
 
Ada tiga rute di tiap aksi malamnya. Rute pertama di Terminal Rajabasa, Unila, hingga bundaran Hajimena. Rute kedua di Pasar tengah, Stasiun Kereta Api, lanjut ke Pasar Bambu Kuning, Pasar Tamin, Pasar Bawah, dan Pasar Tugu. Rute ketiga di Telukbetung, Pasar Kangkung. 'Bagi yang masih tidur kami bangunkan. Permisi pak, kami dari Berbagi Nasi Lampung mau berbagi nasi," ujar mahasiswa Jurusan Matematika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Lampung ini.
 
Dhia kerap menemukan kejadian-kejadian haru. Dia mencontohkan anak-anak jalanan yang mangkal di Pasar Bawah kerap menghisap lem Aibon. "Alasan mereka dengan ngelem Aibon seharga Rp10 ribu itu bisa tahan dua hari enggak makan," kata Dhia mengutip perkataan anak-anak kecil itu.
Berbagi nasi, tidak hanya memberi kepada yang lapar, tapi juga memberi kepada diri sendiri, berupa kepekaan dan kepedulian dengan sesama. Menurut Dhia, kegiatan ini mengajarkan anak-anak muda memahami rasa syukur. 
 
Mensyukuri rezeki yang ada dan membaginya dengan orang lain yang lebih membutuhkan. "Yang mau gabung di komunitas ini boleh ikut bersama kami membagikan nasi pada malam hari," ujarnya.


Sebungkus Nasi untuk Tunawisma

LELAKI tua itu berjalan meringkuk, tangannya yang kurus mengambil sebungkus nasi pada Ramadan ini ada tambahan satu kotak berisi takjil yang diberikan seorang pemuda.
Sepertinya dia sudah terbiasa dengan pemberian ini sehingga tidak perlu lagi berbasa-basi, cukup menyunggingkan senyum kecil di bibirnya yang kering dan hitam. 
 
Lelaki berbaju lusuh itu memilih pojok Bundaran Gajah Bandar Lampung untuk menikmati pemberian itu. Pelepas lapar hari ini.
 
Tidak banyak orang yang peduli dengan kondisi tunawisma seperti bapak tua itu. Hanya terlihat belasan pemuda dan pemudi yang sibuk membagikan kotak dan bungkusan nasi. Beberapa pengendara sepeda motor yang melewati perempatan Bundaran Gajah menjelang magrib juga mendapat bagian agar bisa berbuka di jalan. 
 
Tidak ada yang sia-sia, sebungkus nasi untuk tunawisma adalah berkah. Itulah kegiatan rutin yang dilakukan Komunitas Berbagi Nasi Lampung. Komunitas ini dibentuk dari Twitter @berbaginasiLPG pada 12 Februari lalu, kini mereka sudah tersebar hampir di seluruh wilayah di Lampung.
"Di Lampung ini masih banyak tunawisma yang tidur di emperan toko, badan jalan, dan mereka tak memiliki banyak uang untuk makan," ujar Dhia Fadhilah Fatin, inisiator Komunitas Berbagi Nasi Lampung. Kini relawan komunitas ini mencapai 20 orang yang terdiri dari mahasiswa, pengusaha, dan umum. 
 
Dhia bersyukur kini sudah banyak donatur yang membantu kegiatan mereka. Jika donatur memberikan nasi, mereka yang membagikan kepada para tunawisma. Namun, jika donatur memberikan uang, mereka terlebih dahulu membeli berbungkus-bungkus nasi untuk kemudian dibagikan. 
 
Berbagi nasi ini rutin mereka lakukan setiap Jumat malam. Khusus Ramadan, mereka mulai membagikan nasi pada sore hari menjelang buka puasa.
 
Target utama komunitas ini adalah tunawisma yang berada di jalanan, pengamen dan para pemulung. Selain itu, mereka juga membagikan nasi untuk satpam dan tukang becak. Aksi Dhia dan teman-temannya dimulai dari pukul 21.00 hingga habis nasi yang dibagikannya. Ada 70?200 bungkus untuk setiap aksinya pada Jumat malam.
 
 
Ada tiga rute di tiap aksi malamnya. Rute pertama di Terminal Rajabasa, Unila, hingga bundaran Hajimena. Rute kedua di Pasar tengah, Stasiun Kereta Api, lanjut ke Pasar Bambu Kuning, Pasar Tamin, Pasar Bawah, dan Pasar Tugu. Rute ketiga di Telukbetung, Pasar Kangkung. 'Bagi yang masih tidur kami bangunkan. Permisi pak, kami dari Berbagi Nasi Lampung mau berbagi nasi," ujar mahasiswa Jurusan Matematika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Lampung ini.
 
Dhia kerap menemukan kejadian-kejadian haru. Dia mencontohkan anak-anak jalanan yang mangkal di Pasar Bawah kerap menghisap lem Aibon. "Alasan mereka dengan ngelem Aibon seharga Rp10 ribu itu bisa tahan dua hari enggak makan," kata Dhia mengutip perkataan anak-anak kecil itu.
Berbagi nasi, tidak hanya memberi kepada yang lapar, tapi juga memberi kepada diri sendiri, berupa kepekaan dan kepedulian dengan sesama. Menurut Dhia, kegiatan ini mengajarkan anak-anak muda memahami rasa syukur. 
 
Mensyukuri rezeki yang ada dan membaginya dengan orang lain yang lebih membutuhkan. "Yang mau gabung di komunitas ini boleh ikut bersama kami membagikan nasi pada malam hari," ujarnya.




Ilmu punya peranan penting dalam hidup manusia. Dengan ilmu, seseorang akan dapat membedakan mana hak dan mana yang batil, mana kawan mana lawan, mana alkohol mana teh botol, mana basudin mana mixadin, mana mang udin mana bik Entin.
 
Suara lantang itu menenggelamkan hiruk pikuk lantai IV Mal Kartini yang sedang ramai. Lafalnya adalah kalimat-kalimat berisi ilmu yang dipadu dengan lelucon cerdas. Namun, dari konstruksi jenis suaranya, sang pemilik suara adalah anak-anak.
 
Benar. Tausiah itu disampaikan oleh Abdul Rafiq Al Fazar. Bocah berumur 13 tahun ini menguasai audiens dengan mengutip ayat dan mensyarahkan secara mantap untuk disampaikan kepada umat. Logat Sundanya membuat penampilannya khas dan mengocok perut penonton.
 
Hari itu, Selasa (23-7), ia sedang tampil pada Lomba Dai Cilik II yang diadakan harian umum Lampung Post.
 
Tema pidatonya saat itu adalah di balik kesulitan ada kebaikan, dan dengan ilmu kita dapat meraih suatu tujuan.
 
Bocah kelas VII Madrasah Tsanawiah (MTs) Miftakhul Ulum, Kotabaru, Kecamatan Padangratu, Lampung Tengah, ini menjadi juara pertama lomba dai tersebut. Panitia mengalokasikan waktu hanya tujuh menit bagi peserta kontes dai yang sudah dua kali diselenggarakan itu.
 
Dia dibimbing Nurman Fauzi, wakil kepala sekolah bidang kesiswaan sekolahnya. Rafiq tampak menguasai materi dan piawai mengatur gestur tubuhnya saat menyampaikan pesan. Bahkan, sebagai bahan latihan, guru agamanya, Ustaz Nasuha, yang membuatkan teks materi dimodifikasi oleh Rafiq dengan apik. ?Rafiq masih malu-malu. Dan itu harus kami yang yakinkan dia,? ujar Nurman.
Rofiq memang sudah cukup punya pengalaman soal berceramah. Ia sejak kelas III SD sudah bercita-cita ingin menjadi dai kondang. "Saya ingin menjadi seperti almarhum Ustaz Jeffry Al Buchori," kata dia.
 
Datang dengan kepercayaan penuh, Rofiq tampil berbaju koko putih, celana hitam, berkopiah hitam, lengkap dengan serban putih bermotif batik. Leluconnya yang khas mampu menyakinkan hati tiga juri. Juri yang terdiri dari Lukman Hakim (Lampung Post), Ustaz H. Mansyuri Ismail (MUI Provinsi Lampung), dan Dimas Raya (Pondok Pesantren Daarul Quran Lampung) mengganjarnya dengan juara pertama.
 
Untuk persiapkan lomba ini Rofik sampai harus membolos sekolah selama tiga hari. Tetapi, dia bersyukur sekolah mengizinkannya. Meski dalam kondisi libur, dia tidak berleha-leha. Sambil kumpul bersama keluarga, dirinya juga rutin mendalami mengaji sambil rutin belajar.
Bahkan semasa lomba tersebut, cowok cilik yang senang berpenampilan sederhana ini lebih intensif mendalami latihan.
 
Pencapaiannya menjadi juara I ini karena rasa penasarannya yang setiap lomba selalu di posisi finalis tiga besar. Makanya sejak itu dalam berbagai kesempatan lomba, dia selalu persiapkan dengan baik, termasuk selalu tancapkan diri untuk selalu rajin belajar, tetap semangat, dan tidak putus asa.
Meski semangatnya tak pernah surut untuk menjadi seorang dai terkenal. Dia sampai harus sekolah dua kali, ketika paginya tetap bersekolah di madrasah tsanawiah dan setelahnya tinggal di pondok pesantren yang masih satu gedung dengan sekolah.
 
Pengenalan Rafiq dengan dunia berdakwah saat masih mengenyam bangku madrasah ibtidaiah (MI). Saat itu dia sedang mengikuti acara Rajaban, kemudian diminta guru mengajinya untuk berpidato di depan banyak orang.
 
Awalnya takut dan kurang percaya diri, tetapi lama-kelamaan jadi senang mendalaminya dengan ikut loba-lomba sehingga berlanjut hingga terjun dalam Lomba Dai Cilik Lampung Post 2013.
 
Rafiq menjelaskan dirinya diperintah sang guru untuk berpidato karena temannya itu berhalangan hadir karena sakit. Untuk mengisi kekosongan acara ceramah, akhirnya dia ditunjuk sang guru untuk berceramah di hadapan teman-teman dan gurunya.
 
Dia masih teringat kata sang guru untuk rileks ke panggung dan jelaskan apa yang dia bisa sekalian didalami dengan dalil ayat sucinya.
 
Ke depan, setelah menjadi jawara Lomba Dai Cilik Lampung Post, Rofiq mengaku belum ada persiapan untuk menjadi dai sungguhan. Pasalnya, dia bersama kedua finalis lainnya, Shafira Ajeng Azahara (juara III) dan Diajeng Maulida (juara II), berkesempatan ikut ceramah secara roadshow di berbagai daerah di Lampung bersama Daarul Quran dan ikut terlibat dalam program ceramah yang disiarkan TVRI Lampung.


Tujuh Menit untuk Dai Cilik Rafiq



Ilmu punya peranan penting dalam hidup manusia. Dengan ilmu, seseorang akan dapat membedakan mana hak dan mana yang batil, mana kawan mana lawan, mana alkohol mana teh botol, mana basudin mana mixadin, mana mang udin mana bik Entin.
 
Suara lantang itu menenggelamkan hiruk pikuk lantai IV Mal Kartini yang sedang ramai. Lafalnya adalah kalimat-kalimat berisi ilmu yang dipadu dengan lelucon cerdas. Namun, dari konstruksi jenis suaranya, sang pemilik suara adalah anak-anak.
 
Benar. Tausiah itu disampaikan oleh Abdul Rafiq Al Fazar. Bocah berumur 13 tahun ini menguasai audiens dengan mengutip ayat dan mensyarahkan secara mantap untuk disampaikan kepada umat. Logat Sundanya membuat penampilannya khas dan mengocok perut penonton.
 
Hari itu, Selasa (23-7), ia sedang tampil pada Lomba Dai Cilik II yang diadakan harian umum Lampung Post.
 
Tema pidatonya saat itu adalah di balik kesulitan ada kebaikan, dan dengan ilmu kita dapat meraih suatu tujuan.
 
Bocah kelas VII Madrasah Tsanawiah (MTs) Miftakhul Ulum, Kotabaru, Kecamatan Padangratu, Lampung Tengah, ini menjadi juara pertama lomba dai tersebut. Panitia mengalokasikan waktu hanya tujuh menit bagi peserta kontes dai yang sudah dua kali diselenggarakan itu.
 
Dia dibimbing Nurman Fauzi, wakil kepala sekolah bidang kesiswaan sekolahnya. Rafiq tampak menguasai materi dan piawai mengatur gestur tubuhnya saat menyampaikan pesan. Bahkan, sebagai bahan latihan, guru agamanya, Ustaz Nasuha, yang membuatkan teks materi dimodifikasi oleh Rafiq dengan apik. ?Rafiq masih malu-malu. Dan itu harus kami yang yakinkan dia,? ujar Nurman.
Rofiq memang sudah cukup punya pengalaman soal berceramah. Ia sejak kelas III SD sudah bercita-cita ingin menjadi dai kondang. "Saya ingin menjadi seperti almarhum Ustaz Jeffry Al Buchori," kata dia.
 
Datang dengan kepercayaan penuh, Rofiq tampil berbaju koko putih, celana hitam, berkopiah hitam, lengkap dengan serban putih bermotif batik. Leluconnya yang khas mampu menyakinkan hati tiga juri. Juri yang terdiri dari Lukman Hakim (Lampung Post), Ustaz H. Mansyuri Ismail (MUI Provinsi Lampung), dan Dimas Raya (Pondok Pesantren Daarul Quran Lampung) mengganjarnya dengan juara pertama.
 
Untuk persiapkan lomba ini Rofik sampai harus membolos sekolah selama tiga hari. Tetapi, dia bersyukur sekolah mengizinkannya. Meski dalam kondisi libur, dia tidak berleha-leha. Sambil kumpul bersama keluarga, dirinya juga rutin mendalami mengaji sambil rutin belajar.
Bahkan semasa lomba tersebut, cowok cilik yang senang berpenampilan sederhana ini lebih intensif mendalami latihan.
 
Pencapaiannya menjadi juara I ini karena rasa penasarannya yang setiap lomba selalu di posisi finalis tiga besar. Makanya sejak itu dalam berbagai kesempatan lomba, dia selalu persiapkan dengan baik, termasuk selalu tancapkan diri untuk selalu rajin belajar, tetap semangat, dan tidak putus asa.
Meski semangatnya tak pernah surut untuk menjadi seorang dai terkenal. Dia sampai harus sekolah dua kali, ketika paginya tetap bersekolah di madrasah tsanawiah dan setelahnya tinggal di pondok pesantren yang masih satu gedung dengan sekolah.
 
Pengenalan Rafiq dengan dunia berdakwah saat masih mengenyam bangku madrasah ibtidaiah (MI). Saat itu dia sedang mengikuti acara Rajaban, kemudian diminta guru mengajinya untuk berpidato di depan banyak orang.
 
Awalnya takut dan kurang percaya diri, tetapi lama-kelamaan jadi senang mendalaminya dengan ikut loba-lomba sehingga berlanjut hingga terjun dalam Lomba Dai Cilik Lampung Post 2013.
 
Rafiq menjelaskan dirinya diperintah sang guru untuk berpidato karena temannya itu berhalangan hadir karena sakit. Untuk mengisi kekosongan acara ceramah, akhirnya dia ditunjuk sang guru untuk berceramah di hadapan teman-teman dan gurunya.
 
Dia masih teringat kata sang guru untuk rileks ke panggung dan jelaskan apa yang dia bisa sekalian didalami dengan dalil ayat sucinya.
 
Ke depan, setelah menjadi jawara Lomba Dai Cilik Lampung Post, Rofiq mengaku belum ada persiapan untuk menjadi dai sungguhan. Pasalnya, dia bersama kedua finalis lainnya, Shafira Ajeng Azahara (juara III) dan Diajeng Maulida (juara II), berkesempatan ikut ceramah secara roadshow di berbagai daerah di Lampung bersama Daarul Quran dan ikut terlibat dalam program ceramah yang disiarkan TVRI Lampung.


DUH gemasnya melihat anak-anak kecil sudah hafal surat-surat pendek dalam Alquran. Bahkan, ada yang masih umur 2 tahun lo. 
 
Tayangan anak-anak hafal Alquran (hafiz) di televisi swasta kerap membuat penonton terkagum-kagum dan juga bangga. "Coba anak saya bisa hafal Alquran seperti itu ya," ujar seorang Bapak yang khusyuk menonton hafiz-hafiz cilik itu beraksi.
 
Bagaimana ya cara mendidikan anak-anak menjadi generasi Qurani. Jumadi Abu Ayyasy Fachori, pengajar di Pondok Pesantren Darul Fatah Bandar Lampung, mengatakan tidak mustahil anak usia 1, 2, atau 3 tahun bisa hafal surat-surat pendek. Semua tergantung didikan orang tuanya di rumah.
Kunci untuk mendekatkan anak dengan Alquran adalah konsistensi. Ustaz Jumadi menyebut satu jam sebelum dan setelah subuh sebagai waktu emas untuk membaca atau menghafal Alquran. Namun, semua tergantung kesepakatan orang tua dan anak, bisa juga setelah salat magrib sampai masuk waktu isya. 


"Waktunya bisa 20-30 menit setiap harinya, tidak perlu lama-lama, asal konsisten, insya Allah bisa mencetak generasi Qurani," Katanya, dua hari lalu.
 
Dia juga mengutip sebuah hadis riwayat Buchori tentang imbauan membaca Alquran, "Sinarilah rumah-rumahmu dengan bacaan Alquran." Tentunya, semua penghuni dalam rumah diimbau untuk rajin membaca Alquran.
 
Untuk memulai program sadar Alquran ini pada anak-anak, Ustaz Jumadi menyarankan agar orang tua mengetahui terlebih dahulu ilmu dan manfaat membaca Alquran. Orang tua bisa memperbanyak membaca artikel-artikel tentang Alquran. Setelah itu, secara perlahan sampaikan kepada anak tentang pentingnya membaca Alquran, sambil melatih anak menghafal ayat-ayat yang ada di dalamnya.
Untuk memotivasi anak, membaca Alquran bisa dilakukan bersama dengan seluruh anggota keluarga di dalam satu ruangan. Bila perlu memanggil guru mengaji khusus ke rumah. Usahakan, satu orang mengaji dan yang lainnya menyimak. Lakukan pembacaan Alquran secara bergantian. "Sebenarnya dari dalam kandungan pun, janin sudah bisa didekatkan dengan Alquran. Misalnya ibunya rajin membaca Alquran, atau bisa juga menyetel kaset atau CD Alquran dan tempelkan headset-nya ke perut ibu," ujar Ustaz yang menjadi pemateri Parenting Qurani ini.
 
Ustaz Jumadi memaparkan beberapa cara yang bisa diterapkan agar anak-anak cepat menghapal Alquran, yaitu:
1. Sistem drilling. Anak-anak bermain dan berlari sambil tetap mengikuti pelafalan yang diucapkan ibunya. Jangan memaksakan anak untuk bisa sendiri. Mulailah hafalan yang paling ringan di surah juz 30.
 
2. Ciptakan kondisi yang relaks dan menyenangkan agar memudahkan anak menghafal.
 
3. Beri anak stimulan dan penyemangat, seperti hadiah. Misalnya, ?Nak, kalau hafal Surah An-Nas bapak belikan mainan, stimulan itu penting,? kata ustaz lulusan Universitas Imam Ibnu Suud Riyadh Cabang Jakarta ini.
 
4. Terus perdengarkan bacaan murotal, kaset atau CD yang sedang dihafal anak. Misal Surat An-Nas diputar berulang-ulang di rumah. Audio atau suara akan terekam dalam ingatan sang anak.
 
5. Putarkan film murotal yang bisa dibeli di toko buku agama Islam. Video berisi tulisan ayat dan artinya serta gambar yang mencerminkan isi surat. Misal Surat Al-Qariah berisi tentang hari kiamat, di dalam video akan ditampilkan gambar alam yang hancur lebur.
 
6. Istikamah dan konsisten terhadap waktu. Waktu menghafal yang tidak diperbolehkan adalah ketika kondisi fisik anak sedang lelah, seperti pulang sekolah dan pulang bermain. Yang bagus adalah waktu saat anak sudah tidur siang atau golden time saat satu jam sebelum dan sesudah subuh.
 


Ini Caranya Mendidik Generasi Qurani

DUH gemasnya melihat anak-anak kecil sudah hafal surat-surat pendek dalam Alquran. Bahkan, ada yang masih umur 2 tahun lo. 
 
Tayangan anak-anak hafal Alquran (hafiz) di televisi swasta kerap membuat penonton terkagum-kagum dan juga bangga. "Coba anak saya bisa hafal Alquran seperti itu ya," ujar seorang Bapak yang khusyuk menonton hafiz-hafiz cilik itu beraksi.
 
Bagaimana ya cara mendidikan anak-anak menjadi generasi Qurani. Jumadi Abu Ayyasy Fachori, pengajar di Pondok Pesantren Darul Fatah Bandar Lampung, mengatakan tidak mustahil anak usia 1, 2, atau 3 tahun bisa hafal surat-surat pendek. Semua tergantung didikan orang tuanya di rumah.
Kunci untuk mendekatkan anak dengan Alquran adalah konsistensi. Ustaz Jumadi menyebut satu jam sebelum dan setelah subuh sebagai waktu emas untuk membaca atau menghafal Alquran. Namun, semua tergantung kesepakatan orang tua dan anak, bisa juga setelah salat magrib sampai masuk waktu isya. 


"Waktunya bisa 20-30 menit setiap harinya, tidak perlu lama-lama, asal konsisten, insya Allah bisa mencetak generasi Qurani," Katanya, dua hari lalu.
 
Dia juga mengutip sebuah hadis riwayat Buchori tentang imbauan membaca Alquran, "Sinarilah rumah-rumahmu dengan bacaan Alquran." Tentunya, semua penghuni dalam rumah diimbau untuk rajin membaca Alquran.
 
Untuk memulai program sadar Alquran ini pada anak-anak, Ustaz Jumadi menyarankan agar orang tua mengetahui terlebih dahulu ilmu dan manfaat membaca Alquran. Orang tua bisa memperbanyak membaca artikel-artikel tentang Alquran. Setelah itu, secara perlahan sampaikan kepada anak tentang pentingnya membaca Alquran, sambil melatih anak menghafal ayat-ayat yang ada di dalamnya.
Untuk memotivasi anak, membaca Alquran bisa dilakukan bersama dengan seluruh anggota keluarga di dalam satu ruangan. Bila perlu memanggil guru mengaji khusus ke rumah. Usahakan, satu orang mengaji dan yang lainnya menyimak. Lakukan pembacaan Alquran secara bergantian. "Sebenarnya dari dalam kandungan pun, janin sudah bisa didekatkan dengan Alquran. Misalnya ibunya rajin membaca Alquran, atau bisa juga menyetel kaset atau CD Alquran dan tempelkan headset-nya ke perut ibu," ujar Ustaz yang menjadi pemateri Parenting Qurani ini.
 
Ustaz Jumadi memaparkan beberapa cara yang bisa diterapkan agar anak-anak cepat menghapal Alquran, yaitu:
1. Sistem drilling. Anak-anak bermain dan berlari sambil tetap mengikuti pelafalan yang diucapkan ibunya. Jangan memaksakan anak untuk bisa sendiri. Mulailah hafalan yang paling ringan di surah juz 30.
 
2. Ciptakan kondisi yang relaks dan menyenangkan agar memudahkan anak menghafal.
 
3. Beri anak stimulan dan penyemangat, seperti hadiah. Misalnya, ?Nak, kalau hafal Surah An-Nas bapak belikan mainan, stimulan itu penting,? kata ustaz lulusan Universitas Imam Ibnu Suud Riyadh Cabang Jakarta ini.
 
4. Terus perdengarkan bacaan murotal, kaset atau CD yang sedang dihafal anak. Misal Surat An-Nas diputar berulang-ulang di rumah. Audio atau suara akan terekam dalam ingatan sang anak.
 
5. Putarkan film murotal yang bisa dibeli di toko buku agama Islam. Video berisi tulisan ayat dan artinya serta gambar yang mencerminkan isi surat. Misal Surat Al-Qariah berisi tentang hari kiamat, di dalam video akan ditampilkan gambar alam yang hancur lebur.
 
6. Istikamah dan konsisten terhadap waktu. Waktu menghafal yang tidak diperbolehkan adalah ketika kondisi fisik anak sedang lelah, seperti pulang sekolah dan pulang bermain. Yang bagus adalah waktu saat anak sudah tidur siang atau golden time saat satu jam sebelum dan sesudah subuh.
 


Monday, July 8, 2013

LIHAT kebunku, penuh dengan bunga. Ada yang putih dan ada yang merah. Setiap hari kusiram semua. Mawar melati, semuanya indah!

Mencintai kegiatan berkebun tak sekadar dalam nyanyian anak-anak. Bagus Prambudi bersama teman-temannya menjadi hobi berkebun sebagai gaya hidup yang sehat. Selain keluar keringat, menambah oksigen untuk lingkungan, tentu saja, sayuran di kebun sendiri jauh lebih sehat dan higienis. Seruan mari berkebun mengalir dari mulut ke mulut, lewat SMS, media sosial Twitter, hingga BlackBerry Messanger. Setiap minggu komunitas ini melakukan kegiatan di lahan berukuran 400 meter persegi. Lahan itu milik seorang dosen, Kushendarto, di kawasan Palapa 6, Bandar Lampung.


Yuk Menanam Sayur Bareng-Bareng

LIHAT kebunku, penuh dengan bunga. Ada yang putih dan ada yang merah. Setiap hari kusiram semua. Mawar melati, semuanya indah!

Mencintai kegiatan berkebun tak sekadar dalam nyanyian anak-anak. Bagus Prambudi bersama teman-temannya menjadi hobi berkebun sebagai gaya hidup yang sehat. Selain keluar keringat, menambah oksigen untuk lingkungan, tentu saja, sayuran di kebun sendiri jauh lebih sehat dan higienis. Seruan mari berkebun mengalir dari mulut ke mulut, lewat SMS, media sosial Twitter, hingga BlackBerry Messanger. Setiap minggu komunitas ini melakukan kegiatan di lahan berukuran 400 meter persegi. Lahan itu milik seorang dosen, Kushendarto, di kawasan Palapa 6, Bandar Lampung.